said bin musyab rah
Said bin Musayab rah. (tabieen)
Kisah Kehidupan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Para Sahabat رضي الله عنهم
Dan orang-orang yang terdahulu; yang mula-mula dari orang-orang
“Muhajirin” dan “Ansar” (berhijrah dan memberi bantuan), dan orang-orang
yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat),
Allah reda kepada mereka dan mereka pula reda kepada Nya, serta Dia
menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya
beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah
kemenangan yang besar. (Surah At-Taubah, Ayat 100)
Said bin Musayab rah. (tabieen)
Seorang Tabiin merdeka, bertipe sangat langka. Puasa di siang hari,
salat tahajud di waktu malam. Dia sempat menunaikan ibadah haji sebanyak
empat puluh kali. Tidak pernah ketinggalan takbiratul Ihram dalam salat
jemaah selama empat puluh tahun dan tidak pernah ditemukan melihat
tengkuk seseorang pada waktu salat, selama itu juga, karena selalu
berada di baris pertama.
Lebih memilih kawin dengan putri Abu Hurairah ra., meski mampu mengawini wanita Quraisy yang dia kehendaki.
Sejak kecil telah bernazar untuk mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan.
Banyak menimba ilmu dari istri-istri Nabi dan dari para Sahabat seperti
Abdullah bin Abbas, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Umar, Usman, Ali, dan
Shuhaib r.ahum.
Mempunyai etika dan tingkah laku seperti yang dicontohkan oleh para sahabat.
Orang yang paling zuhud terhadap kehidupan. Pernah suatu ketika dia
menolak lamaran putra mahkota, Walid bin Abdul Malik, putra khalifah,
Abdul Malik bin Marwan untuk mengawini putrinya. Dia malah mengawinkan
putrinya itu dengan seorang penuntut ilmu bernama Abu Wada‘ah.
Ketika banyak yang menyayangkan hal itu dia malah mengatakan, “Putriku
adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi
kemaslahatannya.”
Seorang penduduk Madinah mengatakan tentang
dirinya, “Dia adalah seorang yang menjadikan dunia sebagai kendaraan
menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri dan
keluarganya. Demi Allah, dia bukan tidak mau mengawinkan putrinya dengan
putra khalifah, atau memandangnya tidak berimbang, tetapi hanya
khawatir putrinya akan tertimpa fitnah keduniaan. Suatu ketika pernah
ditanya oleh seorang sahabat, ‘Apakah engkau menolak lamaran khalifah,
lalu mengawinkan putrimu dengan warga muslim biasa?’ Dia menjawab,
‘Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini
demi kemaslahatannya.’ Dia ditanya lagi, ‘Apa maksudmu?’ Dia menjawab,
‘Coba pikirkan jika dia berpindah ke istana Bani Umaiyah, kemudian
dikelilingi oleh perabot mewah, para pembantu dan dayang-dayang, lalu
suatu saat nanti dia akan menjadi istri khalifah, bagaimana kira-kira
nasib agamanya?’”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar